CERPEN

Jawaban Rindu


karya Dara Syahadah


                   Sisa-sisa suaranya pun tak pernah terdengar lagi. Begitulah seterusnya hingga waktu pun membawanya ke dalam perjalanan waktu. Perjalanan waktu yang merubah semua dahaga menjadi resah bahkan semakin gelisah. Bangku-bangku taman menyambutnya dengan titisan embun, layaknya hati yang masih terkikis. Terlintas kejadian itu di benaknya sekarang.

                “Apakah ini salahku karena sudah masuk ke dalam kehidupannya, atau apa ini kesalahannya yang telah masuk ke dalam kehidupanku. Atau ini kesalahanmu  yang telah mempertemukanku dengannya. Semalam bersamanya merupakan kebahagiaan yang kuinginkan selama ini, tapi itu hanya kebahagiaan semu.”

“Risya, jangan melamun terus!”.

“Kamu farhan, selalu saja ganggu aku lagi termenung!”

Farhan yang menjadi teman bahkan sahabat Risya selama ini, tak sedikitpun mengerti yang dirasakannya saat ini. Tak sanggup rasanya Ia menceritakan padanya, mungkin  suatu saat nanti Farhan akan mengerti.

“Kebahagiaan yang membawaku ke dalam satu dilema. Semua itu terjadi karena kesalahan, tetap pada kesalahan yang sama, menjadikannya sebagai sahabat merupakan sebuah pilihan.” Batinku mengatakan penuh gelisah

Sore itu farhan berniat mengajak Risya pergi ke suatu tempat, untuk kesekian kalinya caranya yang selalu misterius membuatnya tak berucap sepatah katapun.

“Risya haruskah kita tetap bersahabat meski waktu tak  menyatukan kita dan jika itu terjadi aku ingin mengubah jalan kita?”

“Kamu jangan bercanda, sebaiknya kita membahas yang lain saja ya?”

Terlihat Farhan hanya memandang hamparan langit biru sambil berucap lirih, “Salahkah jika suatu saat pilihan itu salah dan bisa berubah?”

“Farhan, kita pulang saja!”

“Farhan…. Farhan…. Farhan… Bangun.”

***

         Sejak kepergian Farhan, Risya menjadi pendiam  dan memilih menjauhkan diri dari teman-temannya. Risya merasa bersalah atas meninggalnya Farhan sehingga Ia memutuskan untuk pindah kuliah ke kota kelahirannya, Bandung. Kota yang sejak dulu menjadi impiannya bersama Farhan.

“Farhan, izinkanku melupakanmu sebab kau tak pernah mencintaiku!”

Dan itulah ucapan Risya terakhir di pusara Farhan sebelum Ia pergi meninggalkan semua kenangannya, keresahannya bersama Farhan .

Setelah beberapa bulan Risya kuliah di kampus yang baru, Ia sudah mulai bisa melupakan sosok Farhan. Walaupun foto-foto Farhan masih terpajang indah di dinding kamarnya, namun ia tetap berusaha untuk tidak mengingat semua kisahnya terdahulu.

Tugas kuliah yang tak kunjung selesai, mengharuskannya untuk mencari referensi-referensi baru. Berjam-jam Ia keliling bursa buku bekas, akhirnya ia menemukan buku yang dicarinya sejak pagi. Namun tiba-tiba ada seseorang yang mendekatinya,

“Benar kamu yang bernama Risya?”

“Kamu siapa, kenal aku dari siapa?”

“Sebaiknya kita tak perlu kenal sebab saya  hanya ingin memberikan sesuatu untukmu, titipan dari seseorang yang selama ini menunggu jawabanmu.”

Risya berpikir keras untuk mengingat semua janji-janji yang pernah diucapkannya, tapi ia merasa semua janjinya telah dilunasinya. Tanpa  bertanya-tanya lagi darimana titipan itu, ia langsung mengambilnya dan meninggalkan bursa buku bekas menuju kosnya.

Begitu sampai di kosnya Ia langsung meletakkan titipan yang dibawanya dari bursa buku bekas tadi sore di dalam lemarinya. Ia masih sibuk dengan tugas-tugasnya hingga larut malam dan keesokan harinya Ia menghadapi ujian akhir semester. Risya merasa bahagia sebab kuliah akan libur sebulan dan ia berencana untuk berlibur sekaligus reuni bersama teman-teman SMU nya. Dan Ia pun sudah memesan tiket pesawat untuk penerbangan esok hari.

Berakhir sudah masa-masa sulit menghadapi ujian akhir dan Risyah mulai memejamkan matanya untuk beristirahat setelah mengemasi pakaiannya yang akan dibawanya besok.

Dalam tidurnya Risyah bertemu dengan Farhan, saat Risyah ingin memeluknya tiba-tiba Farhan meninggalkannya pergi jauh. Risyah terduduk pasrah melihat kepergian Farhan.

Lalu ia terbangun dari tidurnya dan mengambil wudhu untuk bermunajat pada Sang Perindu.

Tiba-tiba ia ingat sesuatu yang pernah dibawanya dari bursa buku bekas beberapa hari yang lalu. Ia pun mulai mencari di sudut-sudut kamarnya tapi tak ditemukan juga, tanpa sengaja ia melihat bungkusan berwarna ungu di dalam lemarinya.

Namun Ia berniat membawanya esok hari dan akan membukanya di dalam pesawat.

Setelah Ia menemukan tempat duduknya, Ia mulai membuka pelan-pelan bungkusan ungu tersebut. Namun Risya hanya menemukan beberapa lembar kertas yang diketik rapi oleh penulisnya.

“Rasa yang telah lama kusimpan sebab ku menunggu titisan jiwa yang yang membasahi jiwaku yang telah tandus, namun ku yakin engkau kan datang saat waktu telah merengkuh kita untuk berpadu.”

“Perjalanan ini kan semakin membingungkanku dengan adanya kertas-kertas ini, sebaiknya kubuang saja bungkusan  ini, tapi apakah ini ?”

“Andai kita berpadu suatu saat nanti, saat engkau mulai membuka mata ribuan cinta kan beterbangan di sekelilingmu. Cinta yang telah terpendam begitu lama yang tak pernah kuungkapkan pada siapapun dan hanya kucurahkan untukmu.”

Risya berusaha mencari identitas pengirimnya tapi tak ada sedikitpun identitas yang dicantumkan pengirim di bungkusan ungu itu. Namun Ia hanya menemukan seuntai kata yang semakin membingungkannya.

“Bagiku bersanding dihadapan kedua orang tua kita untuk berikrar menuju bahtera sakinah, mawaddah, warrahmah adalah impian terhebat sepanjang hidupku. Telah banyak tulisan-tulisan indah yang kupersembahkan untukmu, sebab engkaulah yang membuatku merasakan cinta yang sesungguhnya.”

Namun kini Risya tak sanggup membendung air matanya.

“Satu permohonanku untukmu, janganlah pergi sedetikpun dari hatiku, hati yang terus mengalirkan ketulusan untuk jiwa yang lembut sepertimu. Engkaulah yang membuatku bisa berjalan, bahkan bisa berlari tapi janganlah engkau yang membuatku tertatih kembali. Kekuranganmu adalah hal yang paling sempurna kumiliki sebab kekuranganku telah Engkau miliki seutuhnya.”

“Risya aku mencintaimu”

Dimuat di Waspada 8 Mei 2011

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: